Kamis, 02 Februari 2017

Terikat Tali tak Terlihat



Terikat Tali tak Terlihat
Kau tersenyum
Melambaikan tangan mengajakku mengejarmu
Aku yang terpana pada pesonamu mulai mengikuti langkahmu
Di tikungan ke dua kau tertawa, dan berlari meninggalkanku
Aku mulai mengayunkan kakiku lebih cepat
Mengejarmu
Dan tiba-tiba aku tersungkur
Mencium tanah basah sisa hujan semalam
Aku meringis. Sakit
Dan sesaat kemudian aku menyadari
Aku tak bisa mengejarmu
Tubuhku yang terikat tali tak  terlihat
Aku tak bisa mengejarmu
Aku terpaku menatapmu yang semakin menjauh
menatap pilu jarak yang semakin melebar
Sedang langkahku tak bisa lagi maju
Menatap nanar
Pada keterikatanku
Pada tubuhku yang terikat tali tak terlihat

Minggu, 29 Januari 2017

Tertipu Waktu


Tertipu Waktu
Hangat mentari menyapa
Siang terang berhias birunya langit tanpa awan
Waktu tersenyum memandangku
yang tengah bersandar di bawah pohon mangga
Menatap bayanganku terpaku
Aku berlama-lama bercanda dengan bayangan ku
Matahari masih ceria diatas sana
Aku memintanya tak bergerak
Karena aku ingin bermain lebih lama
Menikmati sejenak rasa bahagia
Saat aku kembali menatap matahari..
ia masih tetap tersenyum
Dan tanpa aku sadari
bayanganku telah berlalu meninggalkanku
Jauh bersama waktu
Meninggalkanku yang berdiri terpaku

_Aruni_

Enyahlah!


Enyahlah!
Dalam bualan kata penuh dusta
Kau tertawa di atas podium megah
Seolah yang mulia hanya kaulah
Menatap penuh pikat disela matamu yang menjilat
Lekat kau selipkan bualanmu tentang pembangunan
Bah! Regenerasi saja kau tak tahu!
Aku mendengus sebal
Ah benar, mana mungkin kau tau regenerasi?
Sedang kau hanya fokus membuncitkan perutmu
Tanpa kau sadari tunas  baru bermunculan
Meski kau halangi, ia akan terus tumbuh menggapai matahari
Meski kau tutupi
Ia akan muncul ke permukaan
Karena inilah regenerasi yang sesungguhnya
Kau lupa pada janji sang waktu
Kau kupa pada ragamu yang merapuh
Juga suaramu yang tak lagi bisa menggelegar
Jangan terlalu pongah hari ini
Buang congkakmu!
Karena tongkat emas pangkatmu akan segera lepas darimu
Meski tak kau lepaskan
Karena tak ada yang abadi..
dan kau harus ingat itu
Aku sungguh tak mau melihat wajahmu
muncul dikertas yang harus ku paku

Aku muak pada janji palsumu!

Hujan Enggan Datang


Awan menggantung manyun
Menanti hujan yang tak kunjung datang
Angin beranjak malas
Menyapa dedaunan yang enggan bergoyang
Hanya melengos saat burung-burung mengajak bermain petak umpet
Burung bernyanyi sendu

Hujan enggan datang
Dingin mengusik dan hangat lenyap
Menyisakan tanya, kemana hujan?
Apakah ia marah pada bumi?
Aroma hujan mendekat
Tapi hujan tak jua terlihat
Untuk apa hanya ia kirimkan harumnya ketika ia tak ingin benar-benar menyapa?
Aku bertanya pada awan yang tak berhenti menebar kelabu
Hujan kenapa?
Ia berhenti sejenak, menatapku lekat
'cemburu' ia menjawab datar
Kembali sibuk berteman kelabu
Dingin masih asik menari bersama angin,
menggoda daun-daun dan burung yang tenang bersandar di dahan

Hujan belum datang
Aku menatap bumi yang resah menunggu hujan
Bagi bumi, hujan adalah hidupnya
Aku melesat mendekati angin
Bertanya kenapa hujan membiarkan bumi menunggu
Angin tersenyum
Karena matahari sempat mencumbu bumi tadi pagi
Menitipkam sedikit hangat dengan sedikit mega
Dan hujan adalah musuh bebuyutan matahari
Hujan tak rela jika bumi dekat dengan matahari

Hujan enggan menyapa hari ini
Meski awan, angin dan dingin sibuk membujuknya
Hujan tak kunjung datang
Kulihat bumi yang menatap sayu pada gugus kelabu di langit tanpa warna biru
Aku berlari mencari hujan
Melesat cepat mendahului awan
Kutemukan ia di sudut harapan
Matanya kosong
Sedang bermain bersama gerimis yang ia pegang erat
Aku berjingkat mendekat
Bertanya kenapa ia tak menemui bumi
Ia bergeming
Aku menepuk bahunya
Ia memandangku sekilas
Melemparkan gerimis ke udara
Menangkapnya lagi
Aku membujuknya untuk menemui bumi
Meski hanya sebentar
Ia diam dan beranjak meninggalkanku
Membawa serta gerimis dan sepaket pelangi
Aku berteriak memanggilnya
Ia menghentikan langkahnya
Menoleh kearahku  dan melemparkan gerimis padaku
Berikan itu pada bumi
Lalu ia menghilang tanpa kata
Aku menatap gerimis yang berteriak manja

Hujan enggan datang
Entah sampai kapan
Awan masih bermain bersama angin,
juga dingin yang tak mau ketinggalan
Aku menatap bumi prihatin
Melepas gerimis yang langsung berkejaran
Hujan enggan datang.

_Aruni’s_

Memandang Indah

Memandang indah rona biru kehidupan
Membaur warna suci awan
Tergradasi lembut tanpa paksaan
Indah ciptaan sang Maha, tak tertandingi keelokannya
Nun di sana, barisan hijau tegar menawan
Menyemburatkan wajah kesegaran
Karya Tuhan memang tiada bandingan
Semua ada makna dalam penciptaan
Hanya terkadang manusia lupa, bahwa ia bukan yang kuasa
Mengoreksi dan menghakimi apa yang ada, padahal tak seharusnya ia mencela
Sadarlah

 -Nee- @nilna_sakinah